Senja itu terasa sangat indah. Lembayung berarak menuju peraduannya, burungpun berbondong-bondong kembali menuju sarangnya. Kuhampiri Bunda yang sedang duduk diteras depan.
“Ada apa sayang?”, tanyanya.
“Maha Suci Tuhan yang menciptakan alam ini. Indah sekali. Dan betapa Maha Pemurahnya Ia, kita hanya perlu menjalankan perintah dan menjauhi semua larangannya untuk membalas ini semua.”
“Maha Suci Tuhan yang telah memberi Bunda seorang putri yang cantik juga solehah sepertimu sayang.”
“Ah, Bunda terlalu melebih-lebihkan. Lana bangga mempunyai Bunda yang cantik juga baik seperti Bunda.”
“Terimakasih sayang. Hmm... bukankah sore ini seharusnya kau pergi kerumah Putra?”
“Oh,iya Bun. Hampir saja Lana lupa. Lana pergi bersiap dulu ya, Putra sudah janji akan menjemput Lana.”
“Iya sayang, lekaslah bersiap-siap.”
“Lana, Putra sudah sampai. Cepat sedikit sayang.” Kudengar suara Bunda memanggilku.
“Iya Bun, sebentar lagi Lana selesai.” Jawabku dari dalam kamar.
“Masuk dulu nak Putra, dengan siapa kemari?”
“Saya sendiri Tante, kebetulan Ibu sedang pergi berbelanja dahulu, Ia meminta saya untuk menjemput Lana.”
“Berangkat sekarang?” Tanyaku pada Putra disela-sela perbincangan kecilnya bersama Bunda.
Kamipun berangkat setelah berpamitan kepada Bunda.
Setibanya dirumah Putra, Ibunya menyambutku dengan hangat. Kulihat ibunya serta kedua sahabatku Tita dan Icha, tengah asyik berbincang-bincang.
“Langsung pada tujuan anak-anak?” Tanya Ibu Putra kepada kami. “Mari menuju dapur”, lanjutnya.
Ya, kami akan membuat kue ultah untuk salah satu sahabat kami, setidaknya itu yang mereka katakan padaku. Disela-sela pembuatan kue, kulihat Icha mendekati Putra yang sedang duduk diruang TV. Mereka kelihatan serasi satu sama lain. Hmm... mungkinkah yang Putra ceritakan padaku waktu itu, bahwa dia menyukai sahabatnya sejak mulai masuk SMP, maksudnya adalah Icha? Kenapa tidak pernah terfikirkan olehku sebelumnya? Bukankah sebentar lagi Icha ultah? Jadi Putra akan menyatakan perasaannya pada Icha pas hari ultahnya itu? Ah, kenapa aku ini, bukankah itu haknya? Kenapa aku harus ikut campur urusan mereka, bukankah kita...
“Duarrr!”
“Astagfirullah, Tita. Kaget tau!”. Protesku pada Tita.
“Lagian kamu, dari tadi bengong melulu. Lagi lihatin siapa sih?”
“Enggak. Bukan apa-apa.” Aku mencoba mengeles.
“Ciee... lagi ngelihatin Putra ya? Ayo, ngaku saja.” Goda Tita.
“Ada apa?” tanya Icha.
“Tidak ada apa-apa” jawabku sambil berusaha membekap mulut Tita supaya tidak menceritakan kejadian tadi.
“Anak-anak, kue nya sudah jadi.”
Mendengar bahwa kue yang kami buat bersama sudah jadi, kamipun segera menghampiri Ibu Putra.
“Kalian pulangnya diantar Putra saja ya, perempuan tidak baik dijalan malam-malam sendiri” pinta ibunya Putra kepada kami..
“Tidak usah Tante, sebentar lagi saya dijemput kok. Biar Icha pulang bareng saya saja. Rumah kita kan searah, iya kan cha?”
“Iya tante, biar saya ikut Tita saja. Kebetulan rumah kami searah kok.” Icha membenarkan.
“Lana? Kamu diantar Putra saja ya? Bunda tidak menjemput kan?” kata Ibu Putra menawarkan.
Setelah berpamitan pada yang lain, akupun pulang bersama Putra. Sepanjang perjalanan kami habiskan dengan berdiam. Kurasakan ada yang aneh pada Putra. Tidak biasanya dia diam seperti ini, padaku tentunya.
Sesampainya dirumah...
“Makasih ojeknya ya Bang.” Candaku untuk meleburkan suasana.
“Sama-sama Lana.” Jawabnya sembari mengantarkanku sampai depan rumah.
“Aku masuk sekarang ya?” pamitku pada Putra. Saat aku hendak masuk rumah, tiba-tiba...
“Lana?“ panggilnya.
“Ya?”
“Ehm.. ada yang harus aku katakan padamu.”
“Hm? Apa Put?”
“Lana, sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak ada maksud ingin menghancurkan hubungan persahabatan kita atau bagaimana.” Jelasnya
“Putra? Maksudnya? Aku enggak ngerti.”
“Maaf, karena aku harus mengatakan ini padamu. Aku menyukaimu Lana, sejak pertama kali bertemu saat SMP dulu. Sampai sekarang, dan mungkin selamanya.”
Aku terdiam sejenak mendengar penuturan Putra.
“Lana? Aku mohon jangan marah padaku.” Kulihat matanya yang sayu serasa membujukku.
“Tapi, bukankah kamu sukanya sama Icha? Bukankah kamu akan menyatakan perasaanmu padanya pas dia ultah? Kue yang kita buat tadi untuk ultah Icha kan?” tanyaku meminta penjelasan.
“Lana sayang, kamu lupa ya? Besok hari ultah kamu kan?”
“Terus Icha bagaimana? Dia suka sama kamu kan? Tadi kalian terlihat serasi sekali.” Paparku cemburu.
“Aku sangat berterimakasih padanya karena dia dan Tita membantuku menyusun ini semuanya.” Jelasnya.
“Ah, kalian. Harusnya aku tahu dari awal.”
“Maaf Lana, jadi?” tanyanya lagi.
“Aku, Akk...”
“Ssst... tidak perlu dijawab sekarang. Aku akan sabar menunggu. Perasaanku takkan berubah sampai kapanpun.”
“Putra...”
“Selamat ultah Lana sayang, aku sayang kamu. Aku pamit ya? Salam buat Bunda. Selamat tinggal Lana sayang.” Pamitnya.
“Apa maksudnya dengan selamat tinggal? Dasar Putra jelek.” Fikirku.
Malam itu semuanya terasa sangat indah. Putra, aku juga sayang kamu. Kataku dalam hati. Ketika aku sibuk dengan bayang-bayang Putra, tiba-tiba telepon genggamku berdering. Itu pasti Putra! Fikirku. Dan benar saja. Nomor telepon Putra tampil pada layar telepon genggamku, dengan cekatan aku mengangkat telepon itu.
“Halo?” kataku memulai pembicaraan.
“Ini Lana?” terdengar suara seseorang yang sedang menangis diujung telepon sana .
“Iya. Ini Tante ya? Putranya mana tan? Tante kenapa?” tanyaku khawatir.
“Lana sayang, kamu yang sabar ya. Putra kecelakaan Lana, setelah pulang dari rumahmu. Motornya bertabrakan dengan mobil. Putra tidak terselamatkan sayang. Kami sedang dirumah sakit sekarang.” Jelas Ibu Putra sambil menangis.
Seketika itu, tubuhku langsung lemas. Aku tidak sadarkan diri.
Esok harinya aku diantar Bunda pergi kerumah sakit. Disana telah ada Ibu Putra juga kedua sahabatku Tita dan Icha yang tengah menungguku. Kulihat sosok yang telah terbujur kaku diruang mayat. Aku tak kuasa menahan tangis, walaupun aku sudah berjanji tidak akan menangis dihadapannya. Maafkan aku Putra. Baru saja aku memimpikan masa depan indah kita. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Namun satu hal yang harus kau tahu sayang, kau akan tetap berada disini, dihatiku, ibu juga sahabat-sahabatmu. Selamat jalan sayang. Selamat jalan Putra..
by ink

